Biarlah jiwa menyadari bahwa karena keserupaannya dengan Allah, ada kesederhanaan yang alami di dalam dirinya. Sebenarnya bahwa kesederhanaan ini merupakan hal yang sama sebagaimana hidup. Akan tetapi hidup yang dimaksud di sini bukanlah hal yang sama dengan hidup baik, atau hidup bahagia. Sebab jiwa hanya serupa dengan Allah, bukan sama dengan Dia. Ini hanyalah suatu tingkat kedekatan dengan Allah.
Hanya Allahlah kebahagiaan; dan inilah kesederhanaan yang tertinggi dan paling murni. Tetapi kesederhanaan yang paling murni yang disebut keberadaan dan hidup itu sendiri haruslah identik. Dan jiwa memiliki martabat ini. Sekalipun tingkat jiwa lebih rendah, ia mampu mencapai kesempurnaan hidup baik, atau juga kesempurnaan kebahagiaan.
Maka jiwa rasional selalu memuliakan Yang Ilahi dalam keserupaannya, tetapi tetap ada jurang perbedaan di antara keduanya. Namun kesempurnaaan jiwa tetaplah agung: dari pada-Nya, dan hanya dari-Nya jiwa sampai pada hidup bahagia.