“Kekasihku bagiku adalah seperti sekantung kecil Mur”. Di hari-hari awal pertobatanku, kesadaranku akan kebaikan sangat kurang, aku menyakinkan diriku untuk mengumpulkan sekantung kecil mur ini. Itu disisihkan dari saat-saat cemas dan pahit dari pengalaman Tuhanku. Pertama-tama dari kemiskinan masa kecil-Nya, kemudian dari kekerasan yang Dia tanggung semasa pewartaan-Nya, kelelahan dari perjalanan-Nya, berjaga dalam doa yang panjang, godaan ketika Dia berpuasa, air mata belarasa-Nya, celaan dari orang-orang yang Dia jumpai, dan akhirnya bahaya dari penghianat dari antara para saudara.
Ada cercaan, ludahan, pukulan, olok-olokan, cambuk, paku-paku dan siksaan serupa, dan semua itu untuk keselamatan kita. Diantara ranting kecil ini wangi mur yang kurasa, kita jangan melupakan mur yang Dia minum di atas salib dan digunakan untuk mengurapi-Nya saat pemakaman-Nya. Disini pertama-tama Dia menanggung kepahitan dosa-dosaku, kedua Dia menyakinkan akan masa depan tubuhku yang tidak akan binasa. Selama aku hidup aku akan mewartakan kebaikan berlimpah dari peristiwa-peristiwa ini; sebab aku tidak akan melupakan keabadian belaskasih ini, sebab didalamnya aku menemukan hidup.