Tuhan siapakah seperti Engkau?

 

Ketika jiwa merasakan perbedaan ini dalam dirinya sendiri, ia tercabik diantara harapan dan keputusasaan dan hanya dapat berseru, “Tuhan, siapakah seperti Engkau?” Maka semakin ia dilukai oleh kejahatan yang dilihat dalam dirinya, semakin ia bersemangat agar ditarik oleh kebaikan yang juga dilihat ada dalam dirinya dan semakin ia merindukan untuk menjadi dirinya yang sejati, sederhana dan benar, takut akan Allah, dan ia semakin berpaling dari kejahatan.

Namun saya harus menegaskan bahwa kita hanya berani mengerjakan hal-hal ini dengan rahmat bukan melalui kodrat, bahkan juga bukan melalui usaha. Kebijaksanaan yang mengalahkan kejahatan, bukan usaha atau kodrat. Jiwa harus berpaling kepada Sabda. Martabat agung relasi jiwa dengan Sabda, yang sudah sedang saya bicarakan selama 3 tiga hari berturut-turut – bukanlah tanpa efek dan keserupaannya yang abadi memberi kesaksian pada relasi ini.

Roh dalam kebaikan-Nya memperkenankan masuk ke dalam relasi persahabatan ini orang yang serupa dengan-Nya melalui kodrat. Tentu saja dalam tata alamiah keserupaan mencari keserupaan. Dia tak akan melihat jiwa ketika ia tidak serupa dengan-Nya. Tetapi ketika ia serupa dengannya, ia akan memandang kepada-Nya dan Ia akan memperbolehkannya untuk memandang-Nya. “Ketika Dia akan nampak, kita akan menjadi seperti Dia, karena kita akan melihat Dia sebagaimana adanya Dia.” Sulit tetapi bukan tidak mungkin.