Kita telah melihat bagaimana jiwa meskipun dibebani dosa, dikotori kejahatan, dijerat bujukan nikmat, tertawan dalam pembuangan, terpenjara di dalam nafsu kedagingan, terperosok ke dalam lumpur, berada dalam kesusahan, terbelenggu pada anggota-anggota tubuhnya, budak tubuhnya, terdistraksi dengan segala urusannya, menderita kesengsaraan, mengembara dan tersesat, dipenuhi ramalan-ramalan serta prasangka yang mencemaskan, asing di tanah musuh dan sebagaimana kata nabi, ambil bagian dengan kecemaran orang-orang mati dan terhitung bersama mereka yang turun ke neraka – kutahu setiap jiwa yang berdiri dibawah hukuman dan tanpa harapan memiliki kekuatan untuk berbalik.
Dan ia menemukan, bukan hanya dapat menghirup udara segar pengharapan akan pengampunan dan belaskasih tetapi juga keberanian untuk merindukan kesatuan dengan Sabda, tidak takut untuk masuk dalam persekutuan dengan Allah atau menanggung kuk kasih yang manis bersama Raja para malaikat.
Mengapa tidak mengambil resiko dengan penuh keyakian untuk masuk kehadiran-Nya, yang gambarnya saja dihormati dan keserupaannya dimuliakan? Mengapa harus takut dengan keagungan-Nya jika keagungan ini merupakan dasar kokoh keyakinannya?