Hendaknya orang yang mendambakan kontemplasi ingat, bahwa ia tidak akan menemukan penghiburan atau kenikmatan–bukan di dalam, juga bukan di bawah, juga bukan di sekeliling dirinya, sampai ia pada akhirnya belajar untuk mencarinya dari atas dan berharap bahwa kontemplasi itu akan turun dari atas. Semuanya ini akan memampukan dia untuk mengintip dari lubang kunci, melihat melalui kisi-kisi dan ia akan menemukan firdaus kenikmatan yang ditanam oleh Tuhan; suatu taman yang indah dan berbunga–suatu tempat penyegaran. Masuklah ke dalam taman ini, bukan dengan langkah-langkah kaki, tetapi dengan afeksi-afeksi yang mendalam.
Di sanalah sinar cahaya berpantang dan pandangan pada kebenaran yang tak bercacat menerangi mata hati. Di sana kita akan mendapatkan cicipan akan kenikmatan karitas yang tak tertandingi. Semangatnya diresapi dengan minyak balsem belas kasihan dan beristirahat dengan bahagia dengan suara hati yang baik. Tetapi ini belum merupakan ganjaran atas hidup abadi, hanya upah yang dibayarkan untuk dinas militer. Inilah seratus kali lipat yang dijanjikan pada mereka yang menghina dunia. Kamu akan mencari dari buku-buku; tanpa hasil; dari pada mencari di buku-buku, cobalah mengalaminya. Itulah kebijaksanaan dan manusia tidak tahu nilainya. Inilah manna yang tersembunyi, nama baru yang tak seorang pun tahu kecuali dia yang menerimanya. Mengajarkannya bukan dengan belajar, melainkan dengan meminyakinya; bukan ilmu, tapi suara hati yang menanggapinya.